Natal merupakan hari yang dirayakan oleh umat Kristen di seluruh dunia oleh umat Kristen di seluruh dunia untuk memperingati kelahiran Yesus Kristus. Tetapi, kalau kita membaca Alkitab maka jelas tidak didapati suatu informasi mengenai tanggal yang tepat dari kelahiran Tuhan Yesus Kristus.

Kalau kita mempelajari sejarah kekristenan, maka kita akan menemukan fakta bahwa tidak ada bukti historis yang otoritatif mengenai kelahiran Tuhan Yesus Kristus di Yerusalem. Hari raya Natal sama sekali tidak dikenal dan tidak dirayakan oleh orang-orang Kristen mula-mula sampai sekitar abad ke III dan IV. Salah satu sebabnya adalah mereka tidak suka merayakan hari ulang tahun. Perayaan hari ulang tahun adalah kebiasaan kafir. Dalam seluruh Perjanjian Baru tidak pernah kita membaca tentang anggota-anggota jemaat atau orang-orang Kristen yang merayakan hari ulang tahun mereka. Hanya orang-orang kafir saja seperti Herodes (Matius 14 : 6) yang berbuat demikian. Itulah sebabnya bahwa sampai sekarang kita tidak tahu dengan pasti pada hari dan bulan manakah Tuhan Yesus dilahirkan.

Pada sekitar akhir abad ke empat barulah hari Natal mulai dirayakan oleh orang-orang Kristen, meskipun tanggal yang dipakai untuk merayakannya berbeda-beda dilokasi yang berbeda pula. Banyak metode yang dipakai untuk menentukan kelahiran Tuhan Yesus Kristus; diantara tanggal-tanggal yang diusulkan pada waktu itu, antara lain 2 Januari, 6 Januari, 18 April, 19 April, 20 Mei dan 25 Desember. Klemens dari Aleksandria berpendapat bahwa Tuhan Yesus dilahirkan pada tanggal 25 Pachon (=20 Mei), suatu dugaan yang menurut beberapa orang mendekati kebenaran.

Tanggal 6 Januari dirayakan sebagai hari Natal di Mesir (sekitar abad ke-III), di Galia (360) dan Spanyol (380). Tanggal 6 Januari ini adalah hari lahir Aion, suatu ilah yang typis hellinistis, yang mewakili “waktu yang kekal”. Perayaan ulang tahunnya bersifat rahasia. Perayaan kafir ini oleh gereja diganti dengan suatu pesta Kristen pada tanggal yang sama. Mula-mula tentu saja masih dengna rupa-rupa pandangan dan kebiasaan kafir.

Tanggal 25 Desember sebenarnya merupakan suatu perayaan atau festival orang-orang kafir (khususnya bangsa Romawi) yang merayakan pesta Sol Invictus (matahari tidak terkalahkan). Pesta yang mulai dirayakan pada sekitar tahun 274 itu. Dirayakan berhubung dengan hidup-kembalinya matahari. Dalam pengertian pada saat musim dingin waktu itu matahari mencapai titik balik dan mulai menunjukkan peningkatan dalam cahayanya lagi. Perayaan atau pesta itu menjadi pesta yang sangat penting ketika kaisar Aurelianus pada akhir abad ke-III mengangkat dewa matahari menjadi dewa istana dan negara. Gereja Roma pada waku itu tidak dapat menghentikan perayaan tersebut. Maka kemudian gereja memberikan alternatif pilihan, yaitu dengan “merohanikan” pesta kafir itu dengan merayakannya sebagai hari kelahiran Kristus. Gereja menafsirkan kembali simbol-simbol dan kegiatan-kegiatan pesta itu dalam cara yang dapat diterima oleh iman dan praktek Kristen. Kristus diproklamirkan sebagai Terang Baru dan satu-satunya matahari yang benar, Matahari Kebenaran (The Sun of Righteousness, Sol Iustitiae), yang sudah pernah dinubuatkan oleh nabi Maleakhi (bnd. Maleakhi 4 :2). Dengan proklamasi ini Gereja amu mempertobatkan penyembah-penyembah Sol Invictus itu.

Dalam setiap periode sejarah kristen, perhatian kepada hari Natal ditentang oleh minoritas pemimping Kristen. Pada umumnya satu atau lebih dari tiga faktor ini yang menjadi alasan pertentangan itu :

  1. Penolakkan terhadap orotitas gerejawi dalam usahanya untuk mensahkan hari-hari perayaan resmi, dimana Natal adalah satu-satunya.
  2. Keberatan terhadap hal minum-minuman, pesta pora dan immoralitas yang terjadi di perayaan Natal sehingga lebih menyerupai pesta duniawi daripada pesta gerejawi,

Hubungan yang dari sejak dulu dan bersifat terus-menerus antara Natal dengan ide-ide dan praktek-praktek agama kafir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.