Ayah

Ia yang tidak pernah mengeluh saat mencari nafkah untuk isteri dan anak anaknya.

Panas dan terik tak akan menghalanginya untuk mengais rejeki, meskipun terkadang yang diperolehnya tak seberapa.

Tak peduli fisik yang sudah melemah, tak ada kata pensiun di kamusnya, agar dapat memenuhi kebutuhanmu.

Dilubuk hatinya yang terdalam, ia tak pernah ingin melihat keluarganya berkekurangan.

Apapun akan dilakukannya agar kamu bisa menimba ilmu di sekolah terbaik, bersama dengan teman-temanmu.

Ayah selalu punya sejuta alasan untuk tetap berjuang dan menepis kesedihannya.

Ia akan terus berjuang meskipun tak sekali kamu mengucapkan “terima kasih”.

Hidup itu keras, sekeras hati seorang ayah. Ia hanya akan meneteskan air mata jika tak sanggup memberi apa yang kamu minta.

Butuh berapa lama lagi agar kamu bisa belajar menghargai perjuangan ayahmu selama ini?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.