Setiap istirahat makan siang, Amir akan membuka kotak makanannya dengan pelahan sambil komplain, “Jangan nasi, tahu, dan tempe lagi ya”, namun ketika terbuka kotaknya, ia berteriak, “Sialan, nasi tahu tempe lagi!”

Teman kerjanya tidak tahan melihat Amir setiap hari komplain, berkata: “Mir, kalau bosan dengan nasi, tahu, dan tempe, ya bilang sama istrimu, jangan bawakan nasi, tahu, dan tempe lagi!”

Amir menjawab, “Mas, sejujurnya saya belum menikah, dan tadi pagi yang mengotaki nasi, tahu, dan tempe ini ya saya sendiri”


Cerita tersebut di sadur dari buku Tal Ben Shahar, dosen legendaris Harvard University, “Choose The Life You Want”. Kita komplain dengan hidup kita, tidak nyaman, tidak enak, pekerjaan kurang menantang, ‘stuck’, tidak ada kemajuan, sama saja pekerjaan yang dilakukan membosankan sekali, dan seterusnya. Sebenarnya yang mengotaki apa yang kita kerjakan ini ya kita sendiri.

Hampir semua hasil kehidupan kita sebenarnya adalah pilihan kita sendiri, dan kita sangat mempunyai hak dan kemampuan untuk memilihnya. Tetapi kebanyakan dari kita hanya mau komplain saja, walau tahu sebenarnya kita bisa berbuat sesuatu untuk mengubah keadaan kita ini. Kita mengeluh dan berkeluh kesah dengan banyak energi, tanpa akan memperbaiki sesuatu apapun.

Kita sering terlalu banyak jalan dengan ‘autopilot’, melakukan tanpa mau memikir lebih dalam. Hal ini seperti, ‘ya mengalir sajalah’, ‘ya ini suratan takdirlah’, ‘ya memang begini keadaannya’, dan kita tidak mau lebih banyak berupaya untuk membentuk sendiri masa depan kita menuju hidup yang lebih baik. Dengan melakukan tindakan2 perubahan.

Memilih untuk memilih, “choose to choose”, adalah sebuah kebulatan tekad, untuk tidak lagi mau menerima semua apa adanya saja, tetapi memilih untuk melakukan sesuatu yang dapat kita pilih untuk menghasilkan hasil kehidupan yang berbeda. Tidak pula menyalahkan dan memakai alasan kambing2 hitam untuk membenarkan keengganan kita melakukan pilihan tindakan.

Ada saatnya kita merasa terperangkap, masuk dalam jepitan kehidupan, coba tanyakan hal2 sulit yang mungkin akan berguna: “Apa yang harus saya lakukan dalam kehidupan saya supaya saya bisa mendapatkan kehidupan yang saya inginkan? Kemana saya akan pergi? Bagaimana saya bisa sampai disana? Apa resikonya? Siaplah saya? Habiskan waktu sehari mencoret2 dan mencatat semua pilihan yang ada. Jangan mau menerima jawaban “Saya tidak punya pilihan”, karena memang sebenarnya anda punya hak untuk memilih, dan punya pilihan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.