“Ketika lemari penuh dengan tumpukan pakaian, anda pasti akan kebingungan memilih pakaian apa yang cocok dikenakan. Namun ketika hanya ada satu pakaian anda masih dihadapkan pada pilihan untuk memakainya” – Yafaowoloo Gea

 

Natal merupakan hal yang sangat menyenangkan dan ditunggu-tunggu oleh kami anak-anak desa, karena di saat itulah orangtua membelikan kami baju baru. Tak perduli seberapa capek mereka bekerja keras untuk menabung demi sebuah baju baru di hari Natal untuk anak-anaknya, namun rasa lelah itu terbayarkan setelah melihat anak-anaknya dengan bangga bersama anak-anak lainnya ikut liturgi, lomba atau mementaskan drama Natal, sekalipun mereka sendiri hanya mengenakan baju yang telah beberapa natal selalu mereka kenakan.

Saat kecil, aku tak berani meminta dibelikan baju baru kepada ayah ibuku karena jangankan untuk sepasang baju baru, untuk membeli ikan asin sajapun mereka masih mempertimbangkannya. Bukan karena mereka pelit bukan juga karena tidak mau memakan ikan asin, namun karena kesulitan ekonomi memaksa mereka untuk menentukan skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan keluarga.

Aku terkejut ketika tiba-tiba kakak perempuan tertuaku mengukur badanku beberapa hari sebelum perayaan Natal. Dengan senyum khasnya dia meminta aku dan almarhum abangku untuk menemaninya ke rumah saudara yang memiliki mesin jahit yang berjarak sekitar 5 Km dari rumah kami. Kami berjalan menyusuri jalan setapak di perbukitan, menyeberangi sungai dengan sebuah kantong plastik di tangannya berisi meter kain berwarna putih dan hitam.

Aku tak tahu kapan dia membeli bakal kain itu, dia hanya berkata “baju ini kakak jahitkan untuk kalian berdua agar bisa mengikuti lomba vokal solo di gereja nanti”. Kebetulan aku dan abangku mengikuti lomba vokal solo yang dilaksanakan untuk menyambut perayaan natal di gereja kami.

Karena lomba tinggal beberapa hari lagi, kakakku bekerja keras untuk menyelesaikan pengerjaan jahitan bajunya. Namun satu hari tidaklah cukup baginya untuk menyelesaikan kedua pasang baju tersebut sehingga harus kembali di hari berikutnya hanya agar kedua adiknya dapat mengenakan baju baru saat mengikuti lomba.

Akhirnya hari pelaksanaan lomba tiba, dengan wajah merasa bersalah kakakku meminta maaf karena masih belum sempat memasangkan kancing di kemeja dengan alasan tidak sempat lagi sekalipun aku tahu bahwa kancing bajunya masih belum dibelikan karena tidak ada uang. Dengan mata sedikit berair dia mengumpulkan peniti dari baju ibuku untuk disematkan di kedua kemeja kami sambil berkata “selamat berlomba ya dek, semoga jadi juara”. Kami bergegas ke gereja dengan wajah gembira bersama abangku, mengenakan celana pendek berwarna hitam dan kemeja putih berlengan pendek yang agak kekecilan karena bahannya pas-pasan.

Kami pulang dari lomba tanpa menjadi juara, masih kuingat kakakku menyambut kami di depan pintu menanyakan hasilnya. Tak kulihat raut kekecewaan di wajahnya, dia malah memberikan semangat agar lain kali ikut lomba lagi sambil berkata “kalian kelihatan cakep dengan baju baru kalian”.

Saat perayaan Natal tiba, kulihat kakakku dengan pakaian yang sama seperti yang dipakainya pada natal tahun yang lalu. Hanya kami berdua dengan almarhum abangku yang mengenakan baju baru diantara anggota keluarga kami.

Mungkin bagi anak-anak lainnya dari keluarga berada, mendapatkan baju baru dengan model apapun bukanlah hal yang sulit dan tidak harus menunggu hingga Natal atau hari Raya untuk memperolehnya. Tapi bagi kami anak desa, memiliki baju baru sekali setahun itu merupakan kebahagiaan yang luar biasa. Kami masih beruntung karena masih bisa mengenakan pakaian karena masih banyak anak-anak lain di belahan dunia sana yang hidup tanpa baju dan makanan. Satu hal yang masih kuingat adalah ketika almarhum abangku meninggal, dia hanya membawa sepasang pakaian yang melekat di badannya.

Tulisan ini kudedikasikan buat kakakku Suriani Gea (Ina Kris Zebua) yang saat ini sedang dalam proses penyembuhan penyakit Diabetesnya, yang telah menjahitkan baju natal yang sangat berkesan bagiku sebagai hasil jahitan pertamanya setelah belajar menjahit. In Memoriam buat almarhum abangku, sahabat kecilku Yasatulo Gea.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.